Lawan Kekerasan Pascagempa, Pemkab Manggarai dan PLAN Indonesia Bentuk Relawan Pos SAPA
- account_circle Riky Huwa
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Peserta pelatihan Pos SAPA tingkat Kab. Manggarai.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Manggarai, Pijarflores.com – Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) resmi menggandeng PLAN Indonesia untuk menggelar pelatihan Koordinator Pos Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) pada Rabu (7/10/2026). Langkah strategis ini diambil sebagai respons cepat untuk memulihkan trauma serta mencegah kekerasan seksual, fisik, maupun verbal terhadap kelompok rentan di posko pengungsian pascabencana gempa M 7,7 di Kabupaten Manggarai.
Pelatihan yang dihadiri oleh berbagai lintas sektor mulai dari kepolisian (Unit PPA Polres Manggarai & Densus 88 AT), lembaga keagamaan (JPIC Keuskupan), hingga Kementerian PPPA ini bertujuan untuk membangun sistem proteksi yang kokoh langsung dari tingkat akar rumput.
Fokus Pemulihan Bencana: Kenyamanan dan Perlindungan Kelompok Rentan
Ketua TP PKK Kabupaten Manggarai, Meldyanti Hagur Marcelina Nabit, menegaskan pentingnya koordinasi ketat selama masa pemulihan pascagempa. Saat ini, Kabupaten Manggarai dinilai menjadi salah satu daerah dengan penanganan pascabencana terbaik, salah satunya berkat manajemen pengungsian yang sensitif gender di Posko Wancang.
“Di Posko Wancang, sejak minggu pertama kami sudah memisahkan kamp pengungsian. Ada asrama khusus putra dan putri untuk remaja, tenda lansia dipisahkan, dan pengungsi yang sakit tidak digabungkan dengan yang sehat,” ujar Meldyanti.

Ia juga menyoroti tiga tantangan krusial yang harus segera diintervensi oleh Pos SAPA dan Dinas P3A di lapangan:
1. Validasi Data Anak Yatim/Piatu: Memastikan pemenuhan hak anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana.
2. Perlindungan Anak Korban Perceraian: Menangani ketidakpastian hak asuh anak akibat dampak psikis dan ekonomi keluarga yang retak pascabencana.
3. Pemulihan Ekonomi: Mengintegrasikan penanganan trauma fisik dengan penguatan ekonomi sosiologis masyarakat.
Sinergi Lintas Sektor: Menjadikan Desa Tempat Paling Aman
Perwakilan PLAN Indonesia, Dandy Mandu, menjelaskan bahwa kehadiran LSM, DP3A, dan PKK belum sepenuhnya menghentikan kasus kekerasan. Oleh karena itu, replikasi Pos SAPA ditargetkan bisa meluas ke seluruh kecamatan di Manggarai.
Senada dengan hal itu, Asisten Administrasi Umum Setda Manggarai, Marianus Yosef Djelamu, menyebutkan bahwa relawan yang dilatih hari ini akan menjadi ujung tombak pelayanan pengaduan warga.
“Relawan akan dilatih agar paham alur pelaporan dan perlindungan korban. Jika ada kekerasan di desa atau kelurahan, masyarakat tahu harus curhat dan mengadu ke mana,” jelas Marianus.
Apresiasi dari Kementerian PPPA
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA, Titik Eko Rahayu, yang hadir secara virtual menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi Pemkab Manggarai dan PLAN Indonesia.
“Kami berharap Pos SAPA bisa menjawab persoalan riil anak dan perempuan di pengungsian. Koordinasi dengan aparat penegak hukum (APH) harus bersinergi agar penegakan hukum berjalan efektif,” tegas Titik.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas P3A Manggarai Maria Yasinta Aso, perwakilan Kementerian Agama, Kanit PPA Polres Manggarai, Kasatgaswil NTT Densus 88 AT Polri, serta tokoh masyarakat dari wilayah terdampak gempa.
- Penulis: Riky Huwa
- Editor: Tim PF

Saat ini belum ada komentar