Bupati Hery Nabit: Korban Gempa Manggarai Mulai dari Nol, Dukungan Mental Jadi Kunci Pemulihan
- account_circle Riky Huwa
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kegiatan penguatan psikologi bagi masyarakat terdampak gempa.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruteng, Pijarflores.com – Penanganan dampak bencana tidak boleh hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan pemulihan fisik. Kondisi psikologis serta penguatan mental masyarakat terdampak terutama kelompok lansia yang rentan stres akibat gempa susulan juga harus menjadi prioritas utama.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit, saat membuka Pelatihan Dukungan Psikososial dan Keluarga Tangguh Bencana bagi Penyuluh Agama di Aula Istana Keuskupan Ruteng, pada Rabu (21/10/2026). Kegiatan strategis ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Manggarai, Kementerian Agama, dan Keuskupan Ruteng.
Bupati Hery mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa sebagian besar kepala keluarga yang terdampak gempa bumi magnitudo pada 15 Agustus 2026 lalu, kini terpaksa harus merintis kembali kehidupan mereka dari titik nol.
“Sebagian rumah tangga kembali ke titik nol. Oleh karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab yang sama dengan pemerintah untuk memberikan peneguhan dan kekuatan bagi masyarakat terdampak,” ujar Bupati Hery.
Secara khusus, ia menyoroti kondisi warga lanjut usia (lansia) yang paling rentan mengalami trauma dan stres berkepanjangan. Apalagi, hingga saat ini wilayah Manggarai masih kerap diguncang gempa susulan yang memicu rasa cemas di masyarakat.
Melihat hal itu, Bupati Hery berharap para penyuluh agama dapat mengambil peran garda terdepan. Mereka diharapkan tidak hanya memberikan pendampingan spiritual, tetapi juga menjadi motor penggerak dukungan psikososial bagi kelompok-kelompok rentan selama proses pemulihan pascabencana.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen daerahmulai dari lembaga keagamaan hingga komunitas warga untuk terus menghidupkan roh gotong royong dan solidaritas. Menurutnya, kecepatan pemulihan daerah sangat bergantung pada sinergi kolektif semua pihak.
“Kita sepakat dengan tagline penanganan bencana kita: Manggarai Pulih Bersama, Manggarai Pulih Lebih Cepat,” tegasnya menyemangati para peserta.
Melalui pelatihan kolaboratif ini, para penyuluh agama dibekali kemampuan mitigasi psikologis untuk memperkuat ketahanan keluarga. Langkah nyata ini diharapkan mampu memantik kembali optimisme warga terdampak agar bisa bangkit dan menatap masa depan dengan penuh harapan.
- Penulis: Riky Huwa
- Editor: Tim PF

Saat ini belum ada komentar