Kemendikdasmen Gelar Pelatihan LDP bagi Guru dan Tenaga Kependidikan di Kabupaten Manggarai
- account_circle Riky Huwa
- calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026
- visibility 215
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sekretaris Din PPO Kab. Manggarai, Emil Ndahur, saat memberikan sambutan penutup kegiatan pelatihan LDP di SDK Ruteng VI.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
RUTENG, Pijarflores.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar Pelatihan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kabupaten Manggarai. Kegiatan tahap I berlangsung pada 29–31 Oktober 2026, sedangkan tahap II dijadwalkan pada 2–4 November 2026.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai, Yohanes Emiliano A. Ndahur, S.STP., MA, hadir dalam kegiatan penutupan pelatihan tahap I yang berlangsung di SDK Ruteng VI, Sabtu (31/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Emil menjelaskan pentingnya memahami perbedaan antara trauma healing dan layanan dukungan psikososial. Menurutnya, kedua istilah tersebut memiliki cakupan dan pendekatan yang berbeda.
Ia menjelaskan, trauma healing merupakan proses pemulihan psikologis yang bertujuan membantu seseorang mengatasi dampak emosional akibat pengalaman traumatis.
Sementara itu, layanan dukungan psikososial merupakan bentuk pendampingan yang lebih luas, mencakup dukungan psikologis dan sosial untuk membantu individu maupun kelompok memulihkan kondisi mental, emosional, hubungan sosial, serta kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari setelah mengalami situasi krisis atau bencana.
Karena itu, Emil mengimbau para guru dan tenaga kependidikan agar menggunakan istilah layanan dukungan psikososial ketika kembali ke sekolah maupun lingkungan masyarakat, bukan lagi menggunakan istilah trauma healing.
“Kita berharap Bapak dan Ibu guru, ketika kembali ke sekolah dan lingkungan masyarakat, tidak lagi menggunakan istilah trauma healing, tetapi menggunakan istilah psikososial atau layanan dukungan psikososial,” jelasnya.
Emil juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, layanan dukungan psikososial merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Ia turut menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang selama ini telah mengambil bagian dalam mendukung kegiatan psikososial di Kabupaten Manggarai melalui berbagai cara dan kontribusi, dengan tujuan membantu pemulihan kondisi masyarakat pascabencana.
“Kita selama ini berada dalam situasi yang cukup berat. Gempa bumi telah terjadi ribuan kali, dan lebih dari dua ratus kali di antaranya kita rasakan secara langsung. Kondisi ini tentu memberikan dampak psikologis bagi masyarakat, termasuk para guru dan peserta didik,” ungkapnya.
Menurut Emil, melalui pelatihan ini para guru dan tenaga kependidikan diharapkan dapat memulihkan kondisi psikologis mereka sekaligus memiliki kemampuan untuk memberikan pendampingan kepada peserta didik dan masyarakat yang mengalami dampak psikologis akibat gempa bumi.
Ia berharap, upaya pemulihan tersebut dapat mendukung kelancaran kegiatan pembelajaran sehingga pada Desember mendatang seluruh satuan pendidikan dapat mengakhiri kegiatan pembelajaran semester ini dengan baik.
“Kegiatan seperti ini menjadi bagian yang sangat penting. Ketika Bapak dan Ibu guru kembali dari tempat pelatihan, mereka diharapkan dapat membantu proses pemulihan psikososial pascagempa, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” katanya.
Pada kesempatan itu, Emil juga menyampaikan terima kasih kepada Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi NTT yang turut bekerja sama dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
BGTK NTT merupakan unit pelaksana teknis di bidang pengembangan dan pemberdayaan guru serta tenaga kependidikan. Lembaga ini memiliki peran dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan melalui berbagai program pelatihan, pendampingan, serta pengembangan kapasitas sesuai kebutuhan pendidikan di daerah.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Ali Topan, staf BGTK Provinsi NTT, sebagai pendamping kegitan pelatihan LDP.
Emil menambahkan, Kabupaten Manggarai merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat kerawanan terhadap berbagai jenis bencana alam, mulai dari gempa bumi, tanah longsor, banjir hingga angin puting beliung.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk terus berdoa dan bekerja sama agar kondisi masyarakat segera pulih sehingga aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan secara normal.
Ia berharap para peserta didik di seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Manggarai dapat kembali mengikuti proses pembelajaran dengan aman, nyaman, dan tenang setelah bencana gempa bumi yang terjadi pada Agustus 2026.
Pelaksanaan Pelatihan Layanan Dukungan Psikososial di Kabupaten Manggarai menyasar guru dan tenaga kependidikan pada jenjang Pendidikan Dasar (Dikdas) dan Pendidikan Menengah (Dikmen).
Untuk jenjang Pendidikan Dasar, kegiatan dilaksanakan di tujuh (7) sekolah, yakni SMPN 1 Langke Rembong, SDK Ruteng I, SDK Ruteng II, SDK Ruteng III, SDK Ruteng V, SDK Ruteng VI, dan SDI Tenda.
Sementara itu, untuk jenjang Pendidikan Menengah, pelatihan dilaksanakan di dua sekolah di Kabupaten Manggarai.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru dan tenaga kependidikan tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai dukungan psikososial, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk mendampingi peserta didik serta masyarakat dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana.
Dengan demikian, lingkungan sekolah diharapkan dapat menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mendukung proses pemulihan serta keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak di Kabupaten Manggarai.
- Penulis: Riky Huwa
- Editor: Tim PF

Saat ini belum ada komentar