Bunda PAUD Manggarai Tekankan Peran Keluarga dalam Mewujudkan Anak yang Setara, Terlindungi, dan Berprestasi
- account_circle Andyk
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 37
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto bersama Bunda PAUD Kab. Manggarai Meldyanti Hagur M. Nabit, bersama orang tua, guru, pendamping anak, dan perwakilan PLAN Internasional Indonesia (ist).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Manggarai, Pijarflores.com – Bunda PAUD Kabupaten Manggarai, Meldyanti Hagur Marcelina Nabit, menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter, melindungi hak anak, serta mengembangkan potensi mereka agar tumbuh menjadi generasi yang setara, berprestasi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber pada Workshop Girls Football 3.0 bertema “Berani Bermain, Siap Memimpin, Sampai Semua Setara” yang diselenggarakan oleh PLAN International Indonesia di Aula Ranaka, Kantor Bupati Manggarai, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh para orang tua, guru, pendamping anak, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya memperkuat peran keluarga dalam pengasuhan anak sekaligus mendorong kesetaraan gender melalui pendidikan.
Dalam paparannya yang berjudul “Peran Keluarga dalam Mewujudkan Anak yang Setara, Terlindungi, dan Berprestasi”, Meldyanti menjelaskan bahwa perubahan zaman telah menghadirkan dinamika baru dalam pola pengasuhan. Saat ini, sebagian besar orang tua berasal dari Generasi X dan Generasi Milenial, sementara anak-anak mereka didominasi oleh Generasi Alfa yang lahir dan tumbuh di era digital.
Menurutnya, setiap generasi memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pendekatan dalam mendidik anak juga perlu menyesuaikan perkembangan zaman.
“Perbedaan karakter antargenerasi bukan berarti ada pola asuh yang salah atau benar. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memahami kebutuhan anak sesuai generasinya,” ujar Meldyanti.
Ia menjelaskan, orang tua dari Generasi X umumnya dibesarkan dengan pola pengasuhan yang menekankan disiplin, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap aturan. Sementara itu, Generasi Milenial lebih mengedepankan komunikasi dua arah, membangun hubungan yang terbuka, serta melibatkan anak dalam proses diskusi dan pengambilan keputusan.
Perbedaan karakter tersebut, katanya, perlu dipahami agar orang tua mampu menerapkan pola asuh yang relevan dengan kebutuhan Generasi Alfa.
Meldyanti mengungkapkan bahwa Generasi Alfa merupakan generasi pertama yang sejak lahir telah hidup berdampingan dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memanfaatkan perangkat digital sejak usia dini, cepat menyerap informasi melalui media visual, serta memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, terdapat tantangan yang harus diantisipasi bersama, mulai dari risiko kecanduan gawai, berkurangnya interaksi sosial secara langsung, paparan informasi yang tidak terfilter, hingga pengaruh media sosial terhadap tumbuh kembang anak.
Selain itu, anak-anak Generasi Alfa cenderung lebih kritis, berani mengemukakan pendapat, dan membutuhkan kedekatan emosional dengan orang tua. Oleh karena itu, komunikasi yang hangat, pendampingan, perhatian, serta apresiasi menjadi kunci dalam membangun rasa aman, kepercayaan diri, dan karakter positif anak.
“Ketika anak berhasil, berikan apresiasi. Ketika mereka mengalami kegagalan, dampingi dan dorong untuk terus belajar. Kehadiran orang tua sebagai pendamping merupakan kebutuhan utama bagi anak-anak saat ini,” pesannya.
Bunda PAUD Kabupaten Manggarai juga menekankan pentingnya mewujudkan lingkungan keluarga yang inklusif dan bebas dari diskriminasi gender. Menurutnya, setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak yang sama untuk memperoleh kasih sayang, perlindungan, pendidikan, kesempatan berkembang, serta ruang untuk mengembangkan bakat dan potensinya.
Ia menilai keluarga memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan, penghormatan terhadap hak anak, serta membangun budaya saling menghargai sejak usia dini. Dengan pola pengasuhan yang adaptif, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, tangguh, dan mampu menghadapi perubahan zaman.
Melalui Workshop Girls Football 3.0, Meldyanti berharap para orang tua, guru, dan seluruh pihak yang terlibat semakin memahami pentingnya membangun pola asuh yang adaptif, inklusif, dan responsif terhadap perkembangan zaman.
“Anak-anak membutuhkan keluarga yang hadir, mendengar, mendampingi, dan memberi ruang bagi mereka untuk berkembang. Dari keluarga yang kuat akan lahir generasi yang setara, terlindungi, berprestasi, percaya diri, berani, dan memiliki jiwa kepemimpinan, sejalan dengan semangat Berani Bermain, Siap Memimpin, Sampai Semua Setara,” tutupnya.
- Penulis: Andyk
- Editor: Tim PF

Saat ini belum ada komentar