Ketua TP PKK Manggarai Tinjau Huntara Mandiri dan Salurkan Bantuan Donatur di Posko Wancang
- account_circle Admin
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 134
- comment 0 komentar
- print Cetak

Huntara milik bapak Darius, dari Kampung Wancang Desa Ladur, Kec. Cibal, Kab. Manggarai, NTT.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Manggarai, Pijarflores.com – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Manggarai, Meldyanti Hagur Marcelina Nabit, kembali bergerak cepat mengunjungi warga terdampak gempa bumi. Istri Bupati Manggarai ini menyambangi Posko Pengungsian Wancang di Desa Ladur, Kecamatan Cibal, Rabu (22/9/2026).
Setibanya di lokasi pengungsian yang menampung warga dari Kampung Timbang dan Wancang tersebut, Meldyanti tidak sekadar bertahan di posko. Ia langsung berjalan kaki meninjau rumah-rumah warga yang mulai membangun Hunian Sementara (Huntara) secara mandiri.
Meldyanti menjelaskan, antusiasme warga untuk mendirikan Huntara dipicu oleh faktor kesehatan dan kenyamanan di tenda darurat yang kian menurun, terlebih menjelang tibanya musim hujan.
Warga berinisiatif memanfaatkan material lokal dari kebun mereka sendiri untuk mendirikan bangunan semi-permanen.Selain rumah warga, gempa juga merusak Rumah Gendang (rumah adat) Wancang yang strukturnya permanen.
Dinding-dinding rumah adat tersebut dilaporkan retak dan mulai roboh akibat guncangan. Guna mengantisipasi bahaya reruntuhan bagi warga sekitar, tetua adat bersama masyarakat setempat berencana menggelar diskusi untuk segera melakukan pembersihan material di area rumah gendang.

Rumah gendang Wancang, di Desa Ladur yang rusak akibat gempa.
Saat mengunjungi salah satu Huntara milik Darius Syukur di Dusun Wancang, Meldyanti melayangkan pujian atas kemandirian dan ketangguhan keluarga tersebut. Di dalam Huntara baru itu, Meldyanti juga mendapati istri Darius yang sedang sibuk menenun kain sebuah keterampilan dasar sekaligus penopang ekonomi keluarga di Kabupaten Manggarai.
“Kami membangun huntara ini karena takut, rumah tetangga kami juga sudah roboh. Kami sudah lama tinggal di posko pengungsian. Baru tadi malam (21/9) kami bisa mulai tidur dengan aman di huntara sendiri karena pembangunannya sudah selesai,” ungkap Darius. Ia menambahkan, seluruh kosen dan papan rumah diperoleh langsung dari kebun pribadinya.
Kisah serupa dituturkan oleh Daniel Sukardin, warga Kampung Wancang lainnya. Ia memilih keluar dari posko karena kondisi malam hari yang sangat dingin dan trauma mendalam akibat gempa susulan signifikan pada Senin (21/9) lalu.
“Malam hari di tenda sangat dingin, dan gempa susulan kemarin membuat kami kembali ketakutan,” keluh Daniel.

Huntara yang dibangun Bapak Daniel di kampung Wancang, desa Ladur.
Untuk mendirikan Huntara, Daniel mengumpulkan bambu dan kosen dari kebunnya sendiri, lalu menyiapkan biaya sekitar Rp5 juta, untuk jasa sensor kayu dan upah tukang. Menurutnya, besar biaya sangat bergantung pada kesiapan material lokal yang dimiliki warga.
Sementara itu, warga Dusun Timbang, Petrus Nebo, yang terpaksa mengungsi karena rumahnya rusak total dan tanah di kampungnya terbelah, mengaku sempat panik saat mengumpulkan kayu di kebun.
“Kemarin saat kami sedang menyensor kayu untuk Huntara, gempa susulan datang lagi. Guncangannya cukup besar hingga kami semua lari berhamburan dari kebun. Saat ini kami masih bertahan di posko. Kami sangat berharap pemerintah bisa memberikan perhatian atau bantuan stimulan untuk biaya pembangunan Huntara ini,” harap Petrus.
Setelah selesai mengitari pemukiman warga dengan didampingi Kepala Desa Ladur, Feri Bagung, serta personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Manggarai, Meldyanti kembali ke pusat posko pengungsian.

Bantuan kasur dan seprei dari Jemaat Lifehoeuse Community untuk Lansia dan Nakes di Posko Wancang.
Tidak datang dengan tangan kosong, Meldyanti membawa sejumlah barang bantuan spesifik yang sebelumnya sempat diminta oleh warga saat kunjungan rutin terdahulu.
Aksi peduli kasih kali ini diprioritaskan bagi kelompok rentan, lansia, dan tenaga kesehatan (Nakes).
Bantuan kemanusiaan yang disalurkan merupakan donasi dari berbagai pihak, antara lain dari Ketua Komisi IV DPR RI Ibu Titiek Soeharto berupa paket pakayan untuk lansia, dewasa, dan anak-anak.
Sedangkan peralatan dapur dari Meratus Foundation, dan perlengkapan tidur berupa kasur, sprei, dan sandal jepit dari Jemaat Lifehouse Community.
Masyarakat penerima manfaat pun tampak terharu dan menyampaikan apresiasi yang mendalam. Mereka mengucapkan terima kasih kepada para donatur, pemerintah daerah, serta Bupati dan Ibu Bupati Manggarai yang terus konsisten mendampingi mereka di masa-masa sulit pasca-bencana.
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar