Pascagempa, SDN Purek Beralih ke Ruang Kelas Darurat, Pendidikan Anak Tetap Berjalan
- account_circle Tim PF
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 83
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepsek SDN Purek, Masrin Diguth.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Manggarai, Pijarflores.com – Gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga membawa perubahan besar terhadap aktivitas pendidikan di SDN Purek, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Sejumlah ruang kelas di sekolah tersebut mengalami kerusakan sehingga kegiatan pembelajaran reguler belum dapat dilaksanakan seperti sebelumnya. Hampir seluruh bangunan di lingkungan sekolah terdampak gempa. Kondisi ini membuat pihak sekolah harus mengambil langkah sementara dengan memindahkan kegiatan belajar mengajar ke Ruang Kelas Darurat (RKD).
Kerusakan tidak hanya terjadi pada bangunan fisik. Sejumlah fasilitas pendukung kegiatan sekolah, termasuk laptop dan beberapa Chromebook yang digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran dan administrasi, juga mengalami kerusakan akibat bencana.
Di tengah keterbatasan tersebut, sekolah tidak ingin kondisi pascagempa menghentikan hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan. Pihak sekolah bersama komite sekolah, orang tua murid, dan Pemerintah Desa Beo Rahong kemudian bergotong royong menyiapkan tempat belajar sementara yang dinilai lebih aman bagi peserta didik.

Swadaya orang tua murid di SDN Purek, bangun RKD.
Orang Tua Siapkan Material Lokal
Upaya mendirikan ruang kelas darurat mendapat dukungan kuat dari orang tua murid. Mereka tidak hanya memberikan dukungan tenaga, tetapi juga menyiapkan material lokal yang dibutuhkan untuk membangun tenda sebagai tempat belajar sementara.
Pada Rabu, 2 September 2026, ruang kelas darurat tersebut mulai digunakan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran. Tenda yang dibangun dibagi menjadi empat ruang kelas yang dimanfaatkan secara bergantian oleh para murid.
Kepala SDN Purek, Masrin Diguth, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam penyediaan ruang belajar sementara tersebut.
“Kami, pihak sekolah, menyampaikan terima kasih kepada orang tua murid, komite sekolah, dan Pemerintah Desa Beo Rahong yang telah menyediakan material lokal dan membantu kami mendirikan tenda darurat sehingga hak pendidikan bagi anak-anak tidak terhenti akibat bencana ini. Ini merupakan bukti bahwa kita memiliki kepedulian bersama terhadap pendidikan anak,” ujar Masrin.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan pendidikan tetap berlangsung ketika fasilitas sekolah belum sepenuhnya dapat digunakan.
Kondisi bangunan sekolah juga menjadi alasan utama pihak sekolah memilih ruang kelas darurat. Masrin menjelaskan, pihak sekolah belum dapat memastikan kelayakan seluruh ruang kelas yang mengalami kerusakan untuk digunakan kembali sebelum dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
“Topografi sekolah kami berada di perbukitan. Karena itu, untuk sementara kegiatan pembelajaran kami laksanakan di Ruang Kelas Darurat sebagai upaya menjaga keselamatan dan kenyamanan warga sekolah,” jelasnya.

Pembelajaran berjalan dengan sistem sif.
Pembelajaran Berjalan dengan Sistem Sif
Keterbatasan ruang kelas darurat membuat sekolah harus mengatur kembali pola pembelajaran. Dengan hanya tersedia empat ruang kelas darurat, seluruh murid tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara bersamaan.
Sekolah kemudian menerapkan sistem sif dengan pola 3-1. Kelas I dan V mengikuti pembelajaran pada Senin dan Kamis. Kelas II dan IV mendapat jadwal pada Selasa dan Jumat, sedangkan kelas III mengikuti pembelajaran pada Rabu.
Berbeda dengan kelas lainnya, murid kelas VI mengikuti pembelajaran setiap hari, Senin hingga Sabtu. Pengaturan tersebut dilakukan agar seluruh murid tetap memperoleh kesempatan mengikuti pembelajaran meskipun ruang yang tersedia sangat terbatas.
“Ruang kelas darurat sangat terbatas sehingga pembelajaran dilaksanakan dengan sistem sif. Sementara itu, pendidik dan tenaga kependidikan tetap hadir setiap hari di sekolah,” kata Masrin.
Durasi pembelajaran juga mengalami penyesuaian. Kegiatan belajar dimulai pukul 07.30 WITA dan berakhir sekitar pukul 11.00 WITA. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi sekolah pascabencana sekaligus menjaga kondisi fisik dan psikologis anak.
Dalam pelaksanaannya, guru tidak memaksakan seluruh materi pembelajaran harus dituntaskan dalam kondisi normal. Materi esensial menjadi prioritas, disertai penguatan kemampuan literasi dan numerasi dasar.
“Intinya, hak pendidikan bagi anak tidak boleh terputus akibat situasi ini. Namun, kami juga harus memastikan kenyamanan dan keselamatan seluruh warga sekolah menjadi prioritas,” tegas Masrin.
Sekolah Berupaya Memulihkan Rasa Aman Anak
Kembali ke sekolah setelah mengalami bencana bukan perkara sederhana bagi sebagian anak. Meskipun terlihat ceria ketika mengikuti pembelajaran, rasa takut dan kecemasan masih dapat terlihat dalam perilaku mereka.

Suasana belajar juga menjadi berbeda
Ketika terdengar suara keras atau angin bertiup cukup kencang, sebagian anak masih menunjukkan kewaspadaan dan kepanikan. Pengalaman menghadapi gempa membuat rasa aman yang sebelumnya mereka rasakan di lingkungan sekolah membutuhkan waktu untuk kembali pulih.
Karena itu, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga berusaha menciptakan suasana belajar yang membuat anak merasa nyaman. Kegiatan pembelajaran diarahkan agar berlangsung menyenangkan, tidak menambah kecemasan, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk kembali berinteraksi dengan teman-temannya.
“Kami tidak hanya fokus pada materi ajar, tetapi juga bagaimana membantu memulihkan kondisi psikis anak. Karena itu, pembelajaran harus dibuat menyenangkan agar anak merasa nyaman, aman, dan siap mengikuti kegiatan pembelajaran,” ungkap Masrin.
Bagi pihak sekolah, keberhasilan pembelajaran pascabencana bukan semata-mata diukur dari banyaknya materi yang berhasil disampaikan. Lebih dari itu, anak-anak perlu kembali merasakan bahwa sekolah merupakan tempat untuk belajar, bermain, berinteraksi, dan membangun kembali kepercayaan diri setelah melewati situasi sulit.
Saat ini SDN Purek memiliki 9 orang pendidik dan 2 tenaga kependidikan yang melayani 84 murid. Dengan kondisi fasilitas yang masih terbatas, seluruh warga sekolah berusaha mempertahankan keberlangsungan pendidikan sembari menunggu proses pemulihan fasilitas sekolah.
Orang Tua: Pendidikan Tanggung Jawab Bersama
Keterlibatan orang tua dalam pembangunan ruang kelas darurat menunjukkan bahwa keberlangsungan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.
Jef Tanggung, salah satu orang tua murid di SDN Purek mengatakan bahwa pendidikan merupakan urusan bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pihak sekolah. Pendidikan merupakan urusan bersama antara pemerintah, dalam hal ini sekolah, orang tua murid, dan masyarakat. Ketika sekolah mengalami kesulitan, sebagai orang tua kami harus mendukung, termasuk dalam situasi seperti ini,” ujarnya.
Menurut Jef, kehadiran orang tua dalam proses pembangunan ruang kelas darurat merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap masa depan anak-anak. Dalam kondisi bencana, dukungan tersebut menjadi penting agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar.
“Kami hadir saat pembuatan tenda untuk ruang kelas darurat sebagai bentuk dukungan kami sebagai orang tua bagi pendidikan anak-anak,” katanya.
Gotong royong tersebut menjadi gambaran bahwa ketika fasilitas sekolah mengalami keterbatasan, kepedulian masyarakat dapat menjadi kekuatan untuk menjaga pendidikan tetap berjalan.
Menanti Pemulihan Fasilitas Sekolah
Ruang kelas darurat menjadi solusi sementara bagi SDN Purek untuk mempertahankan kegiatan pembelajaran. Namun, pihak sekolah menyadari bahwa kondisi tersebut tidak dapat menjadi solusi permanen.
“Sekolah membutuhkan ruang belajar yang aman, layak, nyaman, dan ramah bagi anak. Karena itu, pihak sekolah berharap pemerintah daerah bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi bangunan SDN Purek, khususnya melakukan pemeriksaan, rehabilitasi, dan renovasi terhadap gedung-gedung yang mengalami kerusakan,” sebut Masrin.
Ia menjelaskan harapan tersebut bukan sekadar untuk mengembalikan bangunan seperti sebelum gempa. Pemulihan fasilitas sekolah diharapkan sekaligus dapat menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman dan mendukung proses pendidikan anak dalam jangka panjang.
“Bagi keluarga besar SDN Purek, ruang kelas darurat menjadi simbol keteguhan untuk tidak menyerah pada keadaan. Tenda sederhana yang dibangun melalui gotong royong menjadi tempat anak-anak kembali membuka buku, membaca, berhitung, berdiskusi, dan menata kembali harapan setelah bencana,” tuturnya.
Untuk Anak-Anak SDN Purek: Tetap Semangat Meraih Cita-Cita
Anak-anak SDN Purek mungkin saat ini belum belajar di ruang kelas sebagaimana biasanya. Dinding sekolah yang mereka kenal mengalami kerusakan, sementara tenda darurat menjadi tempat baru untuk menuntut ilmu.
Namun, keadaan tersebut tidak boleh membuat mereka kehilangan semangat. Anak-anak hebat, jangan biarkan gempa memadamkan semangat kalian untuk belajar.
“Kalian boleh merasa takut. Kalian boleh merasa cemas. Tetapi ingatlah, kalian tidak menghadapi semua ini sendirian. Guru, orang tua, komite sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat akan terus berjalan bersama kalian,” imbuh Masrin.
Saat ini katanya untuk ruang belajar boleh sementara, tetapi mimpi dan cita-cita tidak boleh ikut sementara. Ia menegaskan agar para siswa tetap fokus giat membaca, teruslah belajar, bermainlah bersama teman-teman, dan perlahan bangun kembali keberanian kalian.
“Hari ini kalian belajar di ruang kelas darurat. Kelak, kalian akan kembali belajar di ruang kelas yang aman dan layak. Dan suatu hari nanti, pengalaman sulit ini akan menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana kalian pernah bangkit, bertahan, dan terus mengejar cita-cita,” ucapnya.
Keluarga besar SDN Purek berharap masa pemulihan segera berjalan sehingga anak-anak dapat kembali mengikuti pembelajaran secara normal. Hingga saat itu tiba, semangat gotong royong dan kepedulian semua pihak menjadi kekuatan untuk memastikan satu hal tetap terjaga:
“Bencana boleh merusak bangunan, tetapi jangan sampai memutus harapan dan pendidikan anak-anak”.
- Penulis: Tim PF
- Editor: Riky Huwa

Saat ini belum ada komentar