Breaking News
light_mode
Trending Tags

POLEMIK GEOTHERMAL DI FLORES, DIMANA PARA USKUP BERDIRI?

  • account_circle Edi Danggur
  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 89
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Edi Danggur

Pijarflores.com – Di Flores, proyek geothermal bukan soal sumber energi listrik. Proyek geothermal telah menjadi garis pemisah. Ada yang pro karena butuh lapangan kerja dan listrik murah. Ada yang kontra karena takut hutan adat, mata air, dan tanah leluhur hilang.

Di tengah tarik-menarik ini, satu pertanyaan menggema: ke manakah seharusnya para pemimpin Gereja, Uskup dan Pastor, berpihak?

Gereja Harus Menjadi Matahari

Ada harapan kuat agar Gereja bersikap seperti matahari: menerangi semua orang tanpa memilah. Matahari tidak bertanya apakah yang di bawahnya orang baik atau jahat. Ia tetap bersinar.

Dalam konteks polemik geothermal, harapan itu berarti: Gereja tidak masuk ke kubu pro atau kontra. Gereja berdiri di tengah sebagai mediator.

Alasannya sederhana. Kalau kohesivitas masyarakat sudah pecah, maka Gereja masih punya ruang untuk menjadi “part of solution” (bagian dari solusi).

Sebaliknya, kalau sejak awal Gereja sudah mengambil posisi, maka ruang itu tertutup. Umat yang berbeda pilihan akan merasa “Uskup dan Pastor sendiri sudah tidak bersama kami”.

Akibatnya, Gereja yang tadinya diharapkan jadi jembatan, justru terjebak menjadi “part of problem” (bagian dari masalah).

Inilah yang kini kita lihat di Flores. Ketika banyak pemimpin Gereja sejak awal berada di barisan kontra geothermal, maka dialog dengan pemerintah dan investor menjadi sulit.

Pemerintah menuduh Gereja menghambat pembangunan. Investor menutup pintu. Padahal masalahnya belum selesai.

Bagaimana Seharusnya Gereja Bersikap?

Apakah berarti Gereja harus diam dan netral? Tidak. Gereja punya tiga peran: Imam, Nabi, dan Raja.

Sebagai Nabi, Gereja tidak boleh bungkam ketika keutuhan ciptaan dan martabat manusia terancam. Dalam Ensiklik Laudato Si’ , Paus Fransiskus mengingatkan: “merawat rumah bersama” adalah kewajiban iman. Diam di hadapan ketidakadilan ekologis sama dengan menyangkal Injil.

Namun sebagai Imam, Gereja juga dipanggil untuk mempersatukan. Maka posisi yang paling tepat bukanlah “abu-abu”, melainkan “berpihak pada prinsip, bukan pada proyek”.

Prinsip itu bisa dirumuskan dalam satu frasa Latin: Caritas veritatem loquitur. Kasih mengatakan kebenaran. Artinya, Gereja tidak perlu berteriak “tolak geothermal” atau “dukung geothermal”.

Gereja perlu bersuara: “Kami tolak jika AMDAL dipalsukan, jika FPIC diabaikan, jika tanah adat dirampas, jika re-injeksi tidak dilakukan”.

Sebaliknya, “Kami dukung proyek Geothermal jika transparansi dijaga, jika dampak diminimalisir, jika PAD kembali untuk rakyat dan lingkungan dipulihkan”.

Dengan cara ini Gereja tidak sedang membela perusahaan atau LSM. Gereja sedang membela kebenaran dan keadilan. Itu posisi kenabian yang tidak memecah, tetapi mencerahkan.

Pesan Moral dari Proyek Geothermal Flores

Realitas di Flores mengajarkan kita pelajaran yang harganya mahal. Ketika Gereja sudah terlanjur berada di satu kutub, maka energi habis untuk berhadapan, bukan untuk berdialog. Warga yang pro merasa dikhianati. Warga yang kontra merasa dibiarkan sendiri.

Padahal peran paling strategis Gereja adalah di ruang tengah: duduk bersama warga yang takut, duduk bersama pemerintah yang ngebut, duduk bersama perusahaan yang mengejar target.

Gereja bisa jadi penerjemah. Menerjemahkan ketakutan warga ke dalam bahasa kebijakan. Menerjemahkan data teknis ke dalam bahasa hati nurani.

Anthony de Mello dalam bukunya berjudul Awareness, mengingatkan: kebanyakan kita hidup dalam tidur. Kita bereaksi sebelum menyadari.

Gereja dipanggil untuk membangunkan, bukan dengan teriakan, tetapi dengan kesadaran. Sadar bahwa energi bersih kita butuhkan. Sadar juga bahwa tanpa keadilan, energi itu akan melahirkan luka baru.

Menjadi Matahari yang Tidak Membakar

Gereja tidak dipanggil menjadi LSM lingkungan. Gereja tidak dipanggil untuk mengibarkan bendera dari kelompok tertentu. Gereja juga tidak dipanggil menjadi humas proyek. Gereja dipanggil menjadi hati nurani bangsa.

Maka jawaban atas dilema ini adalah: Gereja tidak usah memilih “pro atau kontra geothermal”. Gereja harus memilih “pro pada proses yang benar, dan kontra pada keserakahan”.

Dengan begitu Gereja tetap menjadi matahari. Menerangi tanpa membakar. Menghangatkan tanpa memihak. Dan di tengah perpecahan, menghadirkan kemungkinan rekonsiliasi.

Karena pada akhirnya, umat tidak butuh pemimpin yang paling keras. Umat butuh pemimpin yang paling berani berkata benar. Mengatakan kebenaran dengan kasih.

Penulis adalah seorang praktisi hukum, tinggal di Jakarta

  • Penulis: Edi Danggur
  • Editor: Tim PF

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Hery Nabit: Buka Puasa Bersama Jadi Wadah Rawat Toleransi di Manggarai

    Bupati Hery Nabit: Buka Puasa Bersama Jadi Wadah Rawat Toleransi di Manggarai

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Ruteng, pijarflores.com – Pemerintah Kabupaten Manggarai menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama sebagai wujud mempererat silaturahmi dan menjaga semangat toleransi antarumat beragama khususnya di Kecamatan Langke Rembong. Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan ini digelar di Aula Ranaka, Kantor Bupati Manggarai, pada Kamis, 12 Maret 2026. Tepat pukul 17.30 WITA acara dimulai yang diawali ucapan selamat […]

  • Ketua TP PKK Manggarai: Peluk Sehat Mobile Bukti Nyata Kehadiran Pemerintah Pascabencana

    Ketua TP PKK Manggarai: Peluk Sehat Mobile Bukti Nyata Kehadiran Pemerintah Pascabencana

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Tim PF
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Ruteng, Pijarflores.com –  Gempa bumi tidak berhenti ketika getaran tanah mereda. Bagi sebagian warga, terutama kelompok rentan, dampaknya masih terasa dalam bentuk gangguan kesehatan, keterbatasan mobilitas, kecemasan, hingga terputusnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Di tengah situasi pascabencana tersebut, Peluk Sehat Mobile bergerak mendekati warga. Pelayanan kesehatan bergerak ini menyasar dua lokus di Kabupaten Manggarai. Pada […]

  • Polres Manggarai Ringkus Pelaku Curanmor dan Pencurian Alat Potong Besi di Wae Ri’i

    Polres Manggarai Ringkus Pelaku Curanmor dan Pencurian Alat Potong Besi di Wae Ri’i

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 78
    • 0Komentar

    MANGGARAI, pijarflores.com – Unit Jatanras Satuan Reskrim Polres Manggarai kembali menunjukkan taringnya dalam memberantas tindak kriminal. Pada Kamis (19/3/2026) sore, petugas berhasil mengamankan seorang pemuda berinisial DJS (20) yang terlibat dalam aksi pencurian sepeda motor (curanmor) dan pencurian alat potong besi. Kasat Reskrim Polres Manggarai, Donatus Share, mengungkapkan bahwa pelaku yang berdomisili di Kelurahan Wali ini […]

  • Wujud Kepedulian Lingkungan, Brimob Kompi 2 Batalyon B Pelopor Bangun Jembatan Penghubung di Kelurahan Watu

    Wujud Kepedulian Lingkungan, Brimob Kompi 2 Batalyon B Pelopor Bangun Jembatan Penghubung di Kelurahan Watu

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 74
    • 0Komentar

    RUTENG, pijarflores.com – Personel Kompi 2 Batalyon B Pelopor Satuan Brimob Polda NTT melakukan aksi nyata peduli lingkungan dengan membangun jembatan penghubung antara RT 16 dan RT 17 di Kelurahan Watu, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, pada Selasa (10/2/2026). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Komandan Kompi (Danki) 2 Batalyon B Pelopor, IPTU Soleman W. Talo, S.H., […]

  • Tingkatkan Kesejahteraan Keluarga, TP PKK Manggarai Gelar Pelatihan Literasi Keuangan Inkubasi UBSP Tahap 2

    Tingkatkan Kesejahteraan Keluarga, TP PKK Manggarai Gelar Pelatihan Literasi Keuangan Inkubasi UBSP Tahap 2

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 71
    • 0Komentar

    RUTENG, PIJARFLORES – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Manggarai menyelenggarakan Pelatihan Literasi Keuangan Inkubasi Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) Tahap 2, pada Sabtu (29/11/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pengelolaan keuangan di tingkat keluarga dan menopang keberlanjutan usaha bersama untuk 19 kelompok UBSP se-kecamatan Langke Rembong. Acara dibuka secara resmi oleh […]

  • Memberi Dengan Hati, Bank NTT Cabang Ruteng Salurkan Bantuan untuk Pembangunan Masjid di Nuca Molas

    Memberi Dengan Hati, Bank NTT Cabang Ruteng Salurkan Bantuan untuk Pembangunan Masjid di Nuca Molas

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 73
    • 0Komentar

    RUTENG, PIJARFLORES – Bank NTT Cabang Ruteng kembali menunjukkan komitmennya dalam berbagi kasih dan mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat Kabupaten Manggarai. Kali ini, bantuan disalurkan untuk pembangunan Masjid Chairul Huda Konggang di Desa Nuca Molas, Kecamatan Satar Mese Barat. Penyerahan bantuan pada hari ini merupakan bagian dari program rutin Bank NTT Cabang Ruteng dalam mendukung […]

expand_less