Breaking News
light_mode
Trending Tags

POLEMIK GEOTHERMAL DI FLORES, DIMANA PARA USKUP BERDIRI?

  • account_circle Edi Danggur
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Edi Danggur

Pijarflores.com – Di Flores, proyek geothermal bukan soal sumber energi listrik. Proyek geothermal telah menjadi garis pemisah. Ada yang pro karena butuh lapangan kerja dan listrik murah. Ada yang kontra karena takut hutan adat, mata air, dan tanah leluhur hilang.

Di tengah tarik-menarik ini, satu pertanyaan menggema: ke manakah seharusnya para pemimpin Gereja, Uskup dan Pastor, berpihak?

Gereja Harus Menjadi Matahari

Ada harapan kuat agar Gereja bersikap seperti matahari: menerangi semua orang tanpa memilah. Matahari tidak bertanya apakah yang di bawahnya orang baik atau jahat. Ia tetap bersinar.

Dalam konteks polemik geothermal, harapan itu berarti: Gereja tidak masuk ke kubu pro atau kontra. Gereja berdiri di tengah sebagai mediator.

Alasannya sederhana. Kalau kohesivitas masyarakat sudah pecah, maka Gereja masih punya ruang untuk menjadi “part of solution” (bagian dari solusi).

Sebaliknya, kalau sejak awal Gereja sudah mengambil posisi, maka ruang itu tertutup. Umat yang berbeda pilihan akan merasa “Uskup dan Pastor sendiri sudah tidak bersama kami”.

Akibatnya, Gereja yang tadinya diharapkan jadi jembatan, justru terjebak menjadi “part of problem” (bagian dari masalah).

Inilah yang kini kita lihat di Flores. Ketika banyak pemimpin Gereja sejak awal berada di barisan kontra geothermal, maka dialog dengan pemerintah dan investor menjadi sulit.

Pemerintah menuduh Gereja menghambat pembangunan. Investor menutup pintu. Padahal masalahnya belum selesai.

Bagaimana Seharusnya Gereja Bersikap?

Apakah berarti Gereja harus diam dan netral? Tidak. Gereja punya tiga peran: Imam, Nabi, dan Raja.

Sebagai Nabi, Gereja tidak boleh bungkam ketika keutuhan ciptaan dan martabat manusia terancam. Dalam Ensiklik Laudato Si’ , Paus Fransiskus mengingatkan: “merawat rumah bersama” adalah kewajiban iman. Diam di hadapan ketidakadilan ekologis sama dengan menyangkal Injil.

Namun sebagai Imam, Gereja juga dipanggil untuk mempersatukan. Maka posisi yang paling tepat bukanlah “abu-abu”, melainkan “berpihak pada prinsip, bukan pada proyek”.

Prinsip itu bisa dirumuskan dalam satu frasa Latin: Caritas veritatem loquitur. Kasih mengatakan kebenaran. Artinya, Gereja tidak perlu berteriak “tolak geothermal” atau “dukung geothermal”.

Gereja perlu bersuara: “Kami tolak jika AMDAL dipalsukan, jika FPIC diabaikan, jika tanah adat dirampas, jika re-injeksi tidak dilakukan”.

Sebaliknya, “Kami dukung proyek Geothermal jika transparansi dijaga, jika dampak diminimalisir, jika PAD kembali untuk rakyat dan lingkungan dipulihkan”.

Dengan cara ini Gereja tidak sedang membela perusahaan atau LSM. Gereja sedang membela kebenaran dan keadilan. Itu posisi kenabian yang tidak memecah, tetapi mencerahkan.

Pesan Moral dari Proyek Geothermal Flores

Realitas di Flores mengajarkan kita pelajaran yang harganya mahal. Ketika Gereja sudah terlanjur berada di satu kutub, maka energi habis untuk berhadapan, bukan untuk berdialog. Warga yang pro merasa dikhianati. Warga yang kontra merasa dibiarkan sendiri.

Padahal peran paling strategis Gereja adalah di ruang tengah: duduk bersama warga yang takut, duduk bersama pemerintah yang ngebut, duduk bersama perusahaan yang mengejar target.

Gereja bisa jadi penerjemah. Menerjemahkan ketakutan warga ke dalam bahasa kebijakan. Menerjemahkan data teknis ke dalam bahasa hati nurani.

Anthony de Mello dalam bukunya berjudul Awareness, mengingatkan: kebanyakan kita hidup dalam tidur. Kita bereaksi sebelum menyadari.

Gereja dipanggil untuk membangunkan, bukan dengan teriakan, tetapi dengan kesadaran. Sadar bahwa energi bersih kita butuhkan. Sadar juga bahwa tanpa keadilan, energi itu akan melahirkan luka baru.

Menjadi Matahari yang Tidak Membakar

Gereja tidak dipanggil menjadi LSM lingkungan. Gereja tidak dipanggil untuk mengibarkan bendera dari kelompok tertentu. Gereja juga tidak dipanggil menjadi humas proyek. Gereja dipanggil menjadi hati nurani bangsa.

Maka jawaban atas dilema ini adalah: Gereja tidak usah memilih “pro atau kontra geothermal”. Gereja harus memilih “pro pada proses yang benar, dan kontra pada keserakahan”.

Dengan begitu Gereja tetap menjadi matahari. Menerangi tanpa membakar. Menghangatkan tanpa memihak. Dan di tengah perpecahan, menghadirkan kemungkinan rekonsiliasi.

Karena pada akhirnya, umat tidak butuh pemimpin yang paling keras. Umat butuh pemimpin yang paling berani berkata benar. Mengatakan kebenaran dengan kasih.

Penulis adalah seorang praktisi hukum, tinggal di Jakarta

  • Penulis: Edi Danggur
  • Editor: Tim PF

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasi Intel Kejari Manggarai: Kami Belum Sampaikan Hasil Audit Kasus DAK DP3AKB ke Pihak Mana Pun

    Kasi Intel Kejari Manggarai: Kami Belum Sampaikan Hasil Audit Kasus DAK DP3AKB ke Pihak Mana Pun

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 326
    • 0Komentar

    Ruteng, Pijarflores.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Manggarai membantah telah mengeluarkan informasi terkait hasil audit kasus dugaan korupsi anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2025 di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Manggarai Timur. Kepala Seksi Intelijen Kejari Manggarai, Putu Cakra Ari Perwira, S.H., M.H., menegaskan bahwa pihaknya sama sekali […]

  • Dorong Pemberdayaan Ekonomi Warga Poco Leok, PLN UIP Nusra Salurkan Bantuan Pertanian dan Peternakan Masyarakat Ring-1 PLTP Ulumbu Unit 5-6

    Dorong Pemberdayaan Ekonomi Warga Poco Leok, PLN UIP Nusra Salurkan Bantuan Pertanian dan Peternakan Masyarakat Ring-1 PLTP Ulumbu Unit 5-6

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 39
    • 0Komentar

    MANGGARAI, PIJARFLORES – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) menyalurkan bantuan serta memberikan pelatihan pertanian hortikultura dan peternakan kepada masyarakat Ring-1 pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu Unit 5-6 di Poco Leok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (28/10/2025). Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN berbasis […]

  • Kunjungi DASHAT Compang Dalo, Bupati Manggarai Tekankan Pentingnya Kolaborasi dan Pangan Lokal

    Kunjungi DASHAT Compang Dalo, Bupati Manggarai Tekankan Pentingnya Kolaborasi dan Pangan Lokal

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle Tim PF
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Ruteng, Pijarflores.com – Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit, SE, MA, mengunjungi Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di Desa Compang Dalo pada Senin (29/6/2026). Kunjungan ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai dalam mempercepat penurunan angka stunting melalui penguatan intervensi gizi berbasis masyarakat. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung pelaksanaan program DASHAT […]

  • Gandeng Lifehouse Community Jakarta, Ketua TP PKK Manggarai Salurkan Bantuan Logistik ke Puskesmas Pagal

    Gandeng Lifehouse Community Jakarta, Ketua TP PKK Manggarai Salurkan Bantuan Logistik ke Puskesmas Pagal

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Ruteng, Pijarflores.com – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Manggarai, Meldyanti Hagur Marcelina Nabit, kembali turun langsung menyalurkan bantuan logistik untuk warga terdampak bencana. Kali ini, aksi kemanusiaan tersebut menyasar wilayah Kecamatan Cibal. Bantuan yang didistribusikan ini merupakan wujud kepedulian dari Jemaat Lifehouse Community Jakarta bagi masyarakat yang terdampak guncangan gempa […]

  • Sistem Kelistrikan Aceh Pulih, PLN Masuki Tahap Pengoperasian Pembangkit

    Sistem Kelistrikan Aceh Pulih, PLN Masuki Tahap Pengoperasian Pembangkit

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Aceh Tamiang, Pijarflores – PT PLN (Persero) berhasil memulihkan kembali jaringan transmisi bertegangan 150 kilovolt (kV) Pangkalan Brandan–Langsa pada Rabu (17/12) pukul 13.30 WIB. Kini, interkoneksi sistem kelistrikan Aceh yang tadinya terisolasi telah kembali terhubung dengan backbone sistem besar Sumatra. Dengan pulihnya interkoneksi tersebut, pemulihan kelistrikan Aceh kini memasuki tahapan pengoperasian kembali pembangkit listrik. Direktur […]

  • Amankan Proyek Strategis, PLN UIP Nusra dan Polda NTT Teken Pedoman Kerja Teknis

    Amankan Proyek Strategis, PLN UIP Nusra dan Polda NTT Teken Pedoman Kerja Teknis

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Tim PF
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Mataram, Pijarflores.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) memperkuat sinergi dengan Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur melalui audiensi sekaligus penandatanganan Pedoman Kerja Teknis (PKT) Pengamanan Proyek dan Aset Ketenagalistrikan, Selasa, 30 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PT PLN (Persero) dan Kepolisian […]

expand_less