Ketika Bumi Berguncang, Kepedulian Harus Tetap Teguh
- account_circle Ferdinandus Heryanto Dala
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Yanto Ketua Caritas Paroki Ri'i, Kecamatan Cibal.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pijarflores.com – Pagi itu, tanggal 15 Agustus, saya bersama istri dan anak sedang terlelap di dalam rumah. Suasana pagi terasa tenang seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa saat kemudian kami akan mengalami sebuah peristiwa yang tidak akan mudah kami lupakan.
Tiba-tiba rumah bergoyang. Pada awalnya saya masih bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi. Namun dalam hitungan detik, saya menyadari bahwa itu adalah gempa bumi.
Saya segera terbangun dan berusaha memastikan keselamatan istri dan anak. Perasaan takut, panik, dan cemas bercampur menjadi satu. Dalam keadaan seperti itu, yang ada dalam pikiran saya hanya satu: bagaimana agar keluarga saya selamat.
Setelah guncangan mulai mereda, saya keluar dan melihat keadaan di sekitar rumah. Ternyata bukan hanya keluarga kami yang merasakan kepanikan. Masyarakat di sekitar juga mengalami hal yang sama.
Ada yang keluar rumah dengan wajah penuh kecemasan, ada yang berusaha mencari anggota keluarganya, dan ada pula yang mulai memeriksa kondisi rumah masing-masing.
Sebagai seorang guru negeri di SMAN 3 Cibal, saya tinggal di rumah dinas, saya terbiasa mendidik dan mendampingi anak-anak. Namun pagi itu saya kembali diingatkan bahwa kehidupan tidak hanya berbicara tentang pekerjaan dan tanggung jawab di sekolah.
Sebagai manusia, kita juga memiliki tanggung jawab untuk hadir bagi sesama, terutama ketika mereka sedang mengalami kesulitan.
Saya juga dipercaya sebagai Ketua Caritas Paroki Rii. Amanah tersebut membuat hati saya semakin tergerak. Gempa yang kami alami bukan hanya menjadi pengalaman pribadi bagi keluarga kami, tetapi juga menjadi panggilan untuk melihat keadaan orang-orang di sekitar yang mungkin mengalami dampak yang lebih berat.
Saya menyadari bahwa dalam situasi bencana, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan berupa makanan, pakaian, atau tempat tinggal. Kehadiran, perhatian, kepedulian, dan semangat untuk saling menguatkan juga sangat berarti.
Peristiwa pagi 15 Agustus itu mengajarkan saya sebuah pelajaran penting: ketika bumi berguncang, manusia tidak boleh kehilangan rasa kemanusiaannya. Justru dalam keadaan sulit, kita harus semakin kuat bergandengan tangan.
Sebagai guru, saya ingin terus mengajarkan kepada anak-anak bahwa pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang kepedulian. Sebagai Ketua Caritas Paroki Rii, saya ingin terus hadir bersama masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.
Gempa mungkin mengguncang rumah kami, tetapi jangan sampai ia mengguncang semangat persaudaraan dan kepedulian kita.
Hari itu saya belajar bahwa keselamatan adalah anugerah, dan setelah kita diselamatkan, sudah menjadi tugas kita untuk ikut menyelamatkan, membantu, dan menguatkan sesama.
15 Agustus akan selalu menjadi pengingat bagi saya bahwa di tengah guncangan kehidupan, kasih, solidaritas, dan kepedulian harus tetap berdiri teguh.
- Penulis: Ferdinandus Heryanto Dala
- Editor: Tim PF

Saat ini belum ada komentar