Evaluasi Menyeluruh: TPKJM Manggarai Perkuat Strategi Penanganan ODGJ dan Penghapusan Pasung
- account_circle Tim PF
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 98
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kegiatan penguatan TPJKM (ist).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruteng, Pijarflores.com – Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Kabupaten Manggarai menggelar Workshop Penguatan Tim pada Selasa, 28 Juli 2026. Kegiatan yang bertempat di Ruang Pertemuan Lantai 2 KSP Mawar Moe Ruteng ini bertujuan merefleksikan capaian penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) serta merumuskan langkah strategis untuk tahun berjalan.
Workshop yang dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai, Lambertus Paput ini, dihadiri oleh 70 peserta lintas sektor. Hadir dalam kesempatan tersebut perwakilan dari Bapperida, Dinas Sosial, Dinas PMD, Polresta Manggarai, Kodim 1216, serta mitra pembangunan seperti Yayasan Ayo Indonesia, Caritas, dan PSE. Kehadiran 10 Kepala Desa dari wilayah program “Bersahaja” dan 25 Kepala Puskesmas menandakan komitmen kuat hingga ke tingkat akar rumput.
Data Terkini: 942 Pasien Terdata, 39 Masih Dipasung
Dalam paparannya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto, mengungkapkan data terkini per 27 Juli 2026. Total pasien ODGJ yang terdata di seluruh Kabupaten Manggarai mencapai 942 jiwa.
Dalam arahannya Kadis Jefrin, menekankan bahwa di balik angka tersebut terdapat nyawa manusia yang membutuhkan pertolongan nyata. “Peraturan Bupati Nomor 13 Tahun 2023 bukan sekadar kertas, melainkan janji kita kepada masyarakat bahwa tidak ada lagi warga Manggarai yang menderita sendirian,” tegasnya.
Data sebaran pasien menunjukkan bahwa Kecamatan Langke Rembong memiliki jumlah kasus tertinggi dengan 121 pasien, diikuti closely oleh Ruteng (116 pasien) dan Rahang Utara (111 pasien). Sementara itu, tantangan terbesar masih terletak pada praktik pemasungan. Saat ini, tercatat masih ada 39 jiwa (4,24%) yang hidup dalam kondisi dipasung.
Kecamatan Satarmese menjadi wilayah dengan angka pemasungan tertinggi, yakni 10 kasus, diikuti Satarmese Utara (7 kasus) dan Satarmese Barat (5 kasus). Ironisnya, beberapa kecamatan seperti Cibal Barat, Reok Barat, dan Wae Ri’i telah berhasil nihil pasung, menjadi bukti bahwa penghapusan pasung sangat mungkin dicapai dengan koordinasi yang tepat.
Cakupan Pengobatan Capai 63%, Tantangan di Reok Barat
Dari sisi akses layanan, Kabupaten Manggarai mencatat progres positif di mana 609 pasien (63,60%) telah mendapatkan pengobatan rutin. Beberapa kecamatan bahkan Achieved 100% cakupan pengobatan, yaitu Satarmese Utara dan Cibal Barat.
Namun, disparitas layanan masih menjadi pekerjaan rumah. Kecamatan Reok Barat dan Satarmese Barat masih mencatat persentase pasien yang mendapat pengobatan di bawah 40% (masing-masing 38,82% dan 38,64%). Rendahnya angka ini mengindikasikan perlunya pendekatan khusus dan penguatan peran kader kesehatan di wilayah tersebut.
Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Pemulihan
Workshop ini juga menjadi wadah evaluasi implementasi Program Bersahaja bersama Yayasan Ayo Indonesia. Program rehabilitasi berbasis masyarakat ini dinilai sukses membuktikan bahwa pemulihan ODGJ tidak bisa hanya mengandalkan medis, tetapi butuh dukungan keluarga dan pemerintah desa.
“Sesi refleksi hari ini menjadi ruang jujur bagi kami untuk melihat apa yang masih belum berjalan optimal,” ujar salah satu peserta dari unsur Puskesmas.
Melalui diskusi panel dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL), TPKJM Manggarai bertekad menurunkan angka pasung menjadi nol persen dan meningkatkan cakupan pengobatan secara merata.
Kolaborasi antara dinas teknis, aparat keamanan (Polisi dan TNI), serta tokoh masyarakat diharapkan mampu menghilangkan stigma dan memastikan setiap ODGJ mendapatkan hak hidupnya sebagai manusia yang bermartabat.
- Penulis: Tim PF
- Editor: Riky Huwa

Saat ini belum ada komentar