Breaking News
light_mode
Trending Tags

MEMILIH MEJA PERUNDINGAN ATAU MENU

  • account_circle Riky Huwa
  • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Foto: Edi Danggur (ist).

Oleh: Edi Danggur

Pijarflores – Jika ada sengketa tanah di antara warga masyarakat, hendaknya diselesaikan melalui dialog atau bipartit. Jangan cepat-cepat menyerahkan sengketa itu kepada aparat penegak hukum (polisi, jaksa, hakim). Sebab, dengan demikian Anda menyerahkan kendali untuk menyelesaikan masalah itu kepada pihak lain.

Kaum bijak biasanya menasehati: “Jika kamu tidak duduk di meja perundingan maka kamu ada di menu”. Nasehat ini merupakan hasil permenungan mendalam dari para negosiator, tidak hanya dalam politik, ekonomi bahkan hukum.

Apa arti esensial dan bagaimana nasehat bijak itu diimplementasikan dalam menyelesaikan sengketa tanah?

Esensi Perundingan

Dengan menyelesaikan masalah pertanahan melalui perundingan, maka pihak-pihak yang bersengketa akan terlibat dalam proses perundingan itu. Dengan terlibat dalam proses, pihak-pihak tersebut bisa ikut mengambil keputusan yang mempengaruhi hasil akhir.

Keterlibatan itu memberi kekuasaan dan kontrol kepada para pihak. Jika pihak-pihak tidak terlibat, dan menyerahkan penyelesaian masalah itu kepada aparat penegak hukum, maka pihak bersengketa tidak memiliki kontrol atas hasil keputusan dan dapat menjadi korban dari keputusan orang lain.

Perundingan mengasumsikan adanya kesadaran dan proaktivitas akan kepentingan mereka sendiri, serta untuk mengambil langkah-langkah untuk melindungi dan mempromosikan kepentingan tersebut.

Dari pengertian esensial tentang perundingan itu maka ada beberapa pesan moral dari frasa tersebut:

Pertama, ketika ada masalah, in casu sengketa tanah, jangan pasif. Jangan hanya menunggu dan melihat, tapi ambil langkah-langkah untuk terlibat dan mempengaruhi hasil. Jangan melemparkan masalah itu pada orang lain, apalagi jika orang lain tidak kompeten, bukan penegak hukum.

Kedua, jaga kepentinganmu. Jaga kepentinganmu sendiri dan jangan biarkan orang lain memutuskan untukmu. Jangan berharap tokoh agama dari berbagai tingkatan bisa menyelesaikan masalahmu.

Tokoh agama itu ibarat matahari yang bersinar untuk semua orang, tidak memandang orang benar dan orang yang salah, orang yang bersikap adil dan orang yang melanggar hukum, orang baik maupun orang jahat.

Ketiga, bersiap untuk berjuang. Jika kamu ingin mencapai tujuanmu, kamu harus bersiap untuk berjuang dan mempertahankan kepentinganmu, tentu dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum, tidak melanggar hak orang lain.

Implementasi

Dalam berbagai sengketa tanah yang terjadi di Labuan Bajo, Penulis selalu memberikan saran penyelesaian seperti ini: Silakan berperkara melalui pengadilan jika semua klaim kepemilikan bisa dibuktikan. Tetapi, jika tidak, sebaiknya berpikir ulang.

Jangan emosi yang mengontrol rasio, tetapi rasio yang mengontrol emosi. Dengan begitu, semua tutur kata di ruang publik, efektif dan efisien. Menyerahkan kendali persoalan kepada pihak lain, ke media massa dengan narasi yang saling memojokkan, ibarat membakar meja perundingan.

Jika demikian, pilihan terbaik dengan mempertimbangkan nasehat bijak di atas, adalah sikap dan perilaku berikut:

Pertama, terlibat dalam proses. Cari kesempatan untuk terlibat dalam proses perundingan atau pengambilan keputusan yang mempengaruhi demi tercapainya kepentinganmu.

Kedua, jaga komunikasimu, baik lisan maupun tulisan. Jika komunikasimu di ruang publik dengan pihak-pihak yang terkait, baik dan menyejukkan, maka hal itu bisa memastikan bahwa kepentinganmu didengar.

Ketiga, bersiap untuk bernegosiasi. Jangan mau menang sendiri. Maka, bersiaplah untuk bernegosiasi dan mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.

Hanya dengan memilih perundingan dan bersiap untuk beradaptasi dengan kepentingan pihak lawan maka hanya melalui meja perundingan itu Anda dapat meningkatkan posisi tawarmu.

Pihak ketiga, entah media massa maupun institusi keagamaan sekalipun, hanya akan menjadikan kita sebagai menu dalam pusaran konflik tersebut. Semua bisa menjadi sia-sia.

Penulis adalah seorang praktisi hukum, tinggal di Jakarta

  • Penulis: Riky Huwa

Rekomendasi Untuk Anda

  • Memberi Dengan Hati, Bank NTT Cabang Ruteng Salurkan Bantuan untuk Pembangunan Masjid di Nuca Molas

    Memberi Dengan Hati, Bank NTT Cabang Ruteng Salurkan Bantuan untuk Pembangunan Masjid di Nuca Molas

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 20
    • 0Komentar

    RUTENG, PIJARFLORES – Bank NTT Cabang Ruteng kembali menunjukkan komitmennya dalam berbagi kasih dan mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat Kabupaten Manggarai. Kali ini, bantuan disalurkan untuk pembangunan Masjid Chairul Huda Konggang di Desa Nuca Molas, Kecamatan Satar Mese Barat. Penyerahan bantuan pada hari ini merupakan bagian dari program rutin Bank NTT Cabang Ruteng dalam mendukung […]

  • Srikandi PLN Bantu Ibu Hamil dan Anak Perangi Stunting di Sekotong Timur

    Srikandi PLN Bantu Ibu Hamil dan Anak Perangi Stunting di Sekotong Timur

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 18
    • 0Komentar

    LEMBAR, PIJARFLORES – Srikandi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) bekerja sama dengan Rumah Sakit (RS) Siloam Mataram menggelar program Srikandi Care berupa penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil dan anak di Aula Kantor Desa Sekotong Timur, Kamis (27/11/2025). Kegiatan yang berfokus pada pencegahan stunting dan gizi buruk tersebut diikuti […]

  • Manggarai Jadi Tuan Rumah Turnamen Pencak Silat Se-NTT, Targetkan Jaring Atlet Menuju PON 2028

    Manggarai Jadi Tuan Rumah Turnamen Pencak Silat Se-NTT, Targetkan Jaring Atlet Menuju PON 2028

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Ruteng, Pijarflores.com – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi menunjuk Kabupaten Manggarai sebagai tuan rumah Kejuaraan Terbuka (Open Tournament) Pencak Silat antarperguruan se-NTT. Kompetisi ini dijadwalkan berlangsung pada 25 sampai 30 Juni 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Dinas PPO Kabupaten Manggarai, dan akan dibuka secara resmi oleh Bupati Manggarai Hery […]

  • Idul Adha 1447 H, PLN UIP Nusra Salurkan 18 Sapi dan 9 Kambing Kurban

    Idul Adha 1447 H, PLN UIP Nusra Salurkan 18 Sapi dan 9 Kambing Kurban

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Mataram, pijarflores.com/ – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) bersama Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah melalui kegiatan berbagi hewan kurban kepada masyarakat di sekitar wilayah kerja perusahaan dengan mengusung tema “Energi Kurban Pancarkan Taqwa, Bagikan Terang untuk Sesama”. Pada perayaan Idul Adha tahun ini, […]

  • Bupati Manggarai Hery Nabit Berhak Raih Trofi Abyakta PWI Pusat 2026

    Bupati Manggarai Hery Nabit Berhak Raih Trofi Abyakta PWI Pusat 2026

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Jakarta, Pijarflores – Sepuluh kepala daerah, tiga wali kota dan tujuh bupati, berhasil mempertahankan proposal inovasi kebudayaan mereka di depan Dewan Juri Anugerah Kebudayaan (AK) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat pada 9 Januari 2026. Tiga bupati melakukan presentasi secara daring (online) karena berhalangan hadir, dengan alasan terkait pemakaman orang tua, penanganan bencana alam di Sumatra, […]

  • Panglima TNI: Bumi Sudah Overload, Kompetisi Global Semakin Sengit

    Panglima TNI: Bumi Sudah Overload, Kompetisi Global Semakin Sengit

    • calendar_month Sabtu, 17 Jun 2017
    • account_circle Riky Huwa
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Ini sekedar contoh berita ========================== Bantul – Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, mengungkapkan saat ini tantangan terbesar Indonesia adalah menghadapi kompetisi global yang semakin sengit. Karena sekarang antar negara bersaing, sementara jumlah penduduk di bumi terus bertambah, bahkan sudah melebihi kapasitas. Bertambahnya jumlah penduduk tersebut, kata Gatot, tidka diimbangi dengan ketersediaan pangan yang cukup. Hal […]

expand_less