Mantan Ketua PMKRI Ruteng Nardi Nandeng Resmi Maju Calon Ketua Presidium PP PMKRI
- account_circle Tim PF
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 49
- comment 0 komentar
- print Cetak

Nardi Nandeng, calon ketua PP PMKRI (ist).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, Pijarflores.com – Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng Periode 2021–2022, Yohanes Nardi Nandeng, secara resmi menyatakan kesiapannya untuk maju bertarung dalam pemilihan Ketua Presidium Pengurus Pusat (PP) PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Periode 2026–2028.
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk panggilan moral untuk memperkuat kembali identitas, arah gerakan, serta relevansi organisasi di tengah dinamika kebangsaan yang kian kompleks.
Akrab disapa Nardi Nandeng, alumnus Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng juga tengah mengemban amanah sebagai Presidium Hubungan Masyarakat Katolik (PHMK) PP PMKRI Periode 2024–2026.
Pengalaman berproses yang matang dari akar rumput di daerah hingga tingkat nasional menjadi modal fundamental baginya dalam memahami tantangan riil organisasi saat ini.
“Keputusan saya untuk maju bukan semata-mata karena keinginan menduduki posisi Ketua Presidium. Ada tanggung jawab moral dan organisatoris untuk memastikan PMKRI terus bertumbuh sebagai organisasi kader yang kuat, intelektual, dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap persoalan bangsa dan negara,” tegas Nardi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Putra asli Manggarai ini menilai, kepemimpinan PP PMKRI ke depan harus memiliki kedalaman visi yang mampu diinternalisasi secara konkret, baik dalam sistem kaderisasi struktural maupun dalam pergerakan eksternal.
Menurutnya, PMKRI mesti keluar dari zona nyaman rutinitas seremonial dan kembali fokus pada khittah-nya sebagai organisasi pembinaan dan perjuangan yang melahirkan kader-kader berintegritas tinggi.
Sistem Kaderisasi Berkelanjutan
Menjadikan kaderisasi sebagai agenda prioritas, Nardi menekankan pentingnya standarisasi pembinaan yang terstruktur dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ia memandang kaderisasi tidak boleh sekadar menjadi prasyarat formalitas keanggotaan administratif semata.
“Kaderisasi adalah jantung organisasi. PMKRI harus memiliki sistem kaderisasi yang terstruktur dan berkelanjutan. Kita harus memastikan setiap kader yang lahir dari rahim PMKRI memiliki integritas, kompetensi, daya kritis, dan jiwa kepemimpinan,” jelasnya.
Dorong PMKRI sebagai Laboratorium Intelektual
Dalam visinya, Nardi berkomitmen menghidupkan kembali budaya akademik di seluruh tingkatan kepengurusan PMKRI.
Tradisi membaca, berdiskusi, melakukan riset, hingga publikasi ilmiah akan kembali didorong menjadi identitas yang melekat pada diri setiap kader.
Ia menargetkan PMKRI menjadi sebuah laboratorium intelektual dan pusat perumusan gagasan yang mampu memproduksi rekomendasi kebijakan berbasis data.
Ekosistem ini nantinya akan menghubungkan potensi kader aktif, alumni, akademisi, serta kelompok masyarakat sipil untuk melahirkan gerakan sosial yang berdampak nyata bagi publik.
Mempertegas Peran Mitra Kritis dan Solutif
Menyoroti peran eksternal organisasi, Nardi menegaskan bahwa PMKRI harus konsisten mempertahankan independensinya sebagai mitra kritis pemerintah.
Namun, ia menggarisbahwi bahwa kritik yang dilayangkan harus naik kelas bukan sekadar retorika aksi, melainkan kritik ilmiah yang menawarkan jalan keluar.
“PMKRI harus tetap kritis terhadap kekuasaan. Namun, kritik kita harus memiliki basis intelektual, data, dan tawaran solusi. Kita harus mampu menghadirkan rekomendasi kebijakan dan advokasi yang benar-benar menjawab persoalan masyarakat,” cetusnya.
Dengan jaringan luas cabang yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, Nardi meyakini kekuatan basis daerah dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan pengetahuan (knowledge power) yang solid untuk mengawal kebijakan publik dari tingkat lokal hingga nasional.
Menjelang momentum suksesi kepemimpinan PP PMKRI, Nardi menyatakan kesiapannya untuk membuka ruang dialog, melakukan konsolidasi, dan menyerap aspirasi dari seluruh cabang di tanah air.
“Saya datang membawa niat, gagasan, dan komitmen untuk bertumbuh bersama PMKRI. Ini bukan perjalanan seorang Nardi Nandeng. Ini adalah ikhtiar bersama untuk memastikan PMKRI semakin kuat dalam kaderisasi, kokoh dalam intelektualitas, dan berdampak dalam perjuangan kebangsaan,” pungkasnya.
Momentum Refleksi dan Estafet Kepemimpinan Nasional
Sebagai informasi, pemilihan Ketua Presidium PP PMKRI Periode 2026–2028 ini akan menjadi salah satu agenda dalam Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI yang dijadwalkan berlangsung pada 19–25 Juli 2026 mendatang.
Kegiatan akbar dua tahunan ini akan diselenggarakan di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mengusung tema “Mempertegas Arah Pembangunan Nasional Menuju Indonesia yang Berdaulat dan Berkeadilan”, forum tertinggi tingkat nasional ini tidak hanya berfungsi sebagai arena suksesi kepemimpinan.
Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang krusial bagi seluruh cabang PMKRI se-Indonesia untuk mengevaluasi roda organisasi, merumuskan garis besar haluan organisasi serta menetapkan rekomendasi strategis internal maupun eksternal dalam mengawal isu-isu kemasyarakatan dan kebangsaan ke depan.
- Penulis: Tim PF
- Editor: Riky Huwa

Saat ini belum ada komentar